Gadis Manis Penghuni Losmen

  <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-3410997203879073"






Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, rasa lelah yang teramat sangat membuat Lintang ingin sesegera mungkin merebahkan punggungnya. Perjalanan yang ia tempuh seharian ini membuat punggungnya terasa patah, ia merogoh pouch kecil yang ia selipkan kedalam tasnya, berusaha mencari minyak angin roll yang ia beli di Indomar*t yang terletak disebelah rumahnya kemarin. Digosokkannya perlahan minyak angin tersebut ke kulit punggung serta pundaknya, "Ah mantap" ucapnya "Sepertinya aku masuk angin". 


Benar saja, ia berangkat terlalu larut sementara jalanan yang macet membuat perjalanan yang ditempuhnya menggunakan angkutan umum semakin terasa lama. Dan lagi, selama didalam bus ia tidak memakan apapun sehingga menyebabkan perutnya kosong dan kembung. 
Lintang menatap kearah cermin, Kusut sekali mukaku, ujarnya dalam hati. Lintang teringat akan kejadian didalam bus yang ia tumpangi seharian ini, ia merasa naas karena telah menyaksikan sebuah tindak kriminal pencopetan. 

Ketika ia tengah dalam lamunan, ia dikejutkan oleh tangis perempuan dari ruangan disebelah tempat ia menginap. Sayup-sayup terdengar suara dua orang tengah cekcok, Lintang mencoba mendengarkan dengan seksama. Ia menempelkan telinganya ke tembok ruangan tersebut, akan tetapi suara tersebut menghilang begitu saja. Hal ini membuat Lintang menjadi penasaran, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki berjalan menghampiri ruang kamarnya. Lintang menjadi panik, betapa tidak, ia tinggal dikamar ini hanya sendiri. Ia juga khawatir akan terjadi hal-hal buruk kepada dirinya sementara tubuhnya yang kurus kerempeng tak akan mampu membuat perlawanan. 

Lintang melirik kearah jam dinding diruangan tersebut, sudah pukul 02.00. Fikiran Lintang mulai menafsirkan berbagai macam hal, ia mulai gugup. Ia takut seseorang dari ruangan sebelah tersebut mengetahui bahwa dirinya tengah menguping sungguh ia tak ingin berurusan dengan siapapun apalagi diwaktu tengah malam seperti ini. 


Suara langkah kaki itu menghilang, ia cemas, takut orang tersebut bersembunyi dibalik pintu kamarnya. Ia berusaha menunduk dan mengintip melalui celah dibawah daun pintu kamar tersebut. Tetapi tidak ada siapapun, tiba-tiba saja terdengar jeritan dan sepertinya suara tersebut berasal dari ruangan yang sama, suara seorang perempuan. Lintang semakin ketakutan, degup jantungnya semakin cepat. 


Lintang berusaha untuk tetap tenang akan tetapi tak dapat dilakukannya, ia membayangkan hal buruk apa yang tengah terjadi kepada perempuan tersebut sampai-sampai dirinya berteriak sekuat itu. Tapi kenapa tidak ada orang yang berusaha untuk menolongnya, kemana satpam losmen yang ia lihat ketika ia memasuki tempat ini. 

Apa tidak ada seorang pun yang mendengar teriakan perempuan tersebut? Lintang menjadi sangat penasaran, ia juga iba mendengar suara tangisan perempuan tersebut, ia membayangkan bagaimana jika dirinya yang mengalami hal tersebut. 

Komentar